Biden: Saatnya Mengakhiri Perang Gaza

    Biden: Saatnya Mengakhiri Perang Gaza

    Team

    Presiden AS Joe Biden berbicara dengan putranya Hunter Biden setibanya di Pangkalan Garda Nasional Udara Delaware di New Castle, Delaware, pada Selasa (11/6/2024), saat ia melakukan perjalanan ke Wilmington, Delaware. Juri memutuskan Hunter Biden bersalah pada 11 Juni atas tuduhan kepemilikan senjata federal dalam penuntutan pidana pertama yang bersejarah terhadap anak seorang presiden AS yang sedang menjabat. Putra Presiden Joe Biden yang berusia 54 tahun dinyatakan bersalah atas ketiga dakwaan federal yang dihadapinya, CNN dan media AS lainnya melaporkan.(ANDREW CABALLERO-REYNOLDS/AFP)
    WASHINGTON DC - Presiden AS Joe Biden pada Kamis (11/7/2024) mengatakan, para mediator Amerika Serikat telah membuat kemajuan dalam mencapai kesepakatan gencatan senjata Gaza. Dalam sebuah konferensi pers usai menghadiri KTT NATO di Washington DC, Biden mengakui kekhawatirannya terhadap tindakan-tindakan Israel meskipun secara keseluruhan ia mendukung sekutu AS tersebut. Ia setidaknya menyerukan diakhirinya perang Israel-Hamas.


    "Ada banyak hal yang dalam retrospeksi saya berharap dapat meyakinkan orang Israel untuk melakukannya, tetapi intinya adalah kita memiliki kesempatan sekarang. Inilah saatnya untuk mengakhiri perang ini," ujarnya, dikutip dari AFP.
    Biden mengakui bahwa masih ada isu-isu yang sulit dan kompleks antara Israel dan Hamas.

    "Masih ada kesenjangan yang harus ditutup. Kami membuat kemajuan. Trennya positif, dan saya bertekad untuk menyelesaikan kesepakatan ini dan mengakhiri perang ini, yang seharusnya sudah berakhir sekarang," katanya.

    Lebih dari sebulan yang lalu, Biden memaparkan sebuah usulan gencatan senjata di Gaza. Dalam usulan yang ia katakan datang dari Israel, Israel akan menghentikan sementara serangannya di Gaza dan Hamas akan membebaskan para sandera.

    Kedua belah pihak kemudian difasilitasi untuk mengadakan pembicaraan yang mengarah pada gencatan senjata secara permanen.

    Terkait usulan itu, Hamas membawa "proposal tandingan", sementara Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu telah menghadapi penolakan dari beberapa sekutu pemerintahnya yang berhaluan kanan.

    Namun, para diplomat telah berbicara tentang kemajuan dalam putaran pembicaraan terbaru yang ditutup pada Kamis di Qatar, yang merupakan mediator utama. Biden sendiri memberikan dukungannya kepada Israel setelah serangan 7 Oktober oleh Hamas di Israel selatan.

    Politikus 81 tahun itu mengenang pertemuannya setengah abad yang lalu saat masih menjadi senator muda dengan Perdana Menteri Israel Golda Meir -dan mengakui bahwa waktu telah berubah.

    "Kami mendorongnya dengan sangat keras, dan Israel terkadang kurang kooperatif," kata Biden tentang pemerintahan Netanyahu.

    "Kabinet perang ini adalah salah satu kabinet perang yang paling konservatif dalam sejarah Israel, dan tidak ada jawaban akhir selain solusi dua negara di sini," katanya.